Senin, 14 Juni 2010
Selasa, 01 Juni 2010
BUDIDAYA KAKAP PUTIH
A. Pra Budidaya
Pada tahap pra budidaya yang pertama dilakukan yakni pemilihan lokasi budidaya. Pada tahap pemilihan lokasi ini yang harus kita perhatikan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan budidaya. Untuk itu maka perlu diadakan survey yang bertujuan agar kegiatan budidaya lebih optimal. Faktor-faktor yang memepnagruhi kegiatan budidaya kakap putih ini yakni :
a. Perairan pantai/ laut yang terlindung dari angin dan gelombang
b. Kedalaman air yang baik untuk pertumbuhan ikan kakap putih berkisar antara 5 ~ 7 meter.
c. Pergerakan air yang cukup baik dengan kecepatan arus 20-40 cm/detik.
d. Kadar garam 27 ~ 32 ppt, suhu air 28 ~ 30 0C dan oksigen terlarut 7 ~ 8 ppm
e. Benih mudah diperoleh.
f. Bebas dari pencemaran dan mudah dijangkau.
g. Tenaga kerja cukup tersedia dan terampil.
Kegiatan lain yang mesti dilakukan pada tahapa ini yakni penentuan metode yang digunakan misalnya Karamba Jaring Apung (KJA). Secara garis besar metode karamba jaring apung terdiri dari :
a. Jaring terbuat dari bahan:
- Bahan: Jaring PE 210 D/18 dengan ukuran lebar mata 1 ~ 1,25”, guna untuk menjaga jangan sampai ada ikan peliharaan yang lolos keluar.
- Ukuran: 3 m x 3 m x 3 m- 1 Unit Pembesaran: 6 jaring (4 terpasang dan 2 jaring cadangan)
b. Kerangka/Rakit: Kerangkan berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan.
- Bahan: Bambu atau kayu
- Ukuran: 8 m x 8 mc. Pelampung: Pelampung berpungsi untuk mengapungkan seluruh sarana budidaya atau barang lain yang diperlukan untuk kepentingan pengelolaan- Jenis: Drum (Volume 120 liter)
- Jumlah: 9 buah.d. Jangkar: Agar seluruh sarana budidaya tidak bergeser dari tempatnya akibat pengaruh angin, gelombang digunakan jangkar.- Jenis yang dipakai: Besi atau beton (40 kg).- Jumlah : 4 buah
- Panjang tali : Minimal 1,5 kali ke Dalian aire. Ukuran benih yang akan Dipelihara: 50-75 gram/ekor
f. Pakan yang digunakan: ikan rucah
g. Perahu : Jukungh. Peralatan lain : ember,serok ikan, keranjang, gunting dll.
Perakitan karamba jaring bisa dilakukan di darat dengan terlebih dahulu dilakukan pembuatan kerangka rakit sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan. Keangkan ditempatkan di lokasi budidaya yang telah direntukan dan agar tetap pada tempatnya (tidak terbawa arus) diberi jangkar sebanyak 4 buah. Jaring apung apa yang telah dibuat berbentuk bujur sangkar pada kerangka rakit dengan cara mengikat keempat sudut kerangka. Cara pengikatan jaring dapat dilihat pada gambar diabawah ini.
Untuk membuat jaring agar berbentuk bujur sangkar, maka pada sudut bagian bawah jaring diberi pemberat seperti pada gambar 3 di bawah ini.:
Untuk mengikat bambu/kayu pada pada pelampung dapatdilihat seperti pada gambar dibawah ini
B. Budidaya
1) Metode Pemeliharaan
Benih ikan yang sudah mencapai ukuran 50-70 gram/ekor dari hasil pendederan atau hatchery, selanjutnya dipelikara dalam kurungan yang telah disiapkan. Penebaran benih ke dalam karamba/jaring apung dilakukan pada kegiatan sore hari dengan adaptasi terlebih dahulu.
Penempelan oleh algae dapat ditanggulangi dengan memasukkan beberapa ekor ikan herbivora (Siganus sp.) ke dalam kurungan agar dapat memakan algae tersebut. Pembersihan kurungan dapat dilakukan dengan cara menyikat atau menyemprot dengan air bertekanan tinggi.
Selain pengelolaan terhadap sarana /jaring, pengelolaan terhadap ikan peliharaan juga termasuk kegiatan pemeliharaan yang harus dilakukan. Setiap hari dilakukan pengontrolan terhadap ikan peliharaan secara berkala, guna untuk menghindari sifat kanibalisme atau kerusakan fisik pada ikan. Disamping itu juga untuk menghindari terjadinya pertumbuhan yang tidak seragam karena adanya persaingan dalam mendapatkan makanan.
Penggolongan ukuran (grading) harus dilakukan bila dari hasil pengontrolan terlihat ukuran ikan yang tidak seragam. Dalam melakukan pengontrolan, perlu dihindari jangan sampai terjadi stress.
2) Panen
Lama pemeliharan mulai dari awal penebaran sampai mencapai ukuran ± 500 gram/ekor diperlikan waktu 5-6 bulan. Dengan tingkat kelulusan hidup/survival rate sebesar 90% akan didapat produksi sebesar 2.700 kg/unit/periode budidaya Pemanenan dilakukan dengan cara mengangkat jaring keluar rakit, kemudian dilakukan penyerokan.
3) Penyakit
Publikasi tentang penyakit yang menyerang ikan-ikan yang dibudidayakan di laut seperti ikan kakap putih belum banyak dijumpai. Ikan kakap putih ini termasuk diantara jenis-jenis ikan teleostei. Ikan jenis ini sering kali diserang virus, bakteri dan jamur. Gejala-gejala ikan yang terserang penyakit antara lain adalah, kurang nafsu makan, kelainan tingkah laku, kelainan bentuk tubuh dll.
Tindakan yang dapat dilakukan dalam mengantisipasi penyakit ini adalah:
a. menghentikan pemberian pakan terhadap ikan dan menggantinya dengan jenis yang lain;
b. memisahkan ikan yang terserang penyakit, serta mengurangi kepadatan;
c. memberikan obat sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.
C. Pasca Budidaya
Tahap pasca budidaya yakni tahap pemasaran hasil budidaya. Pemasaran hasil budidaya dapat dilakukan dengan cara memasarkan hasil budidaya langsung ke pasar ataupun dengan mencari penampung. Pada dasarnya kegiatan pemasaran untuk jenis kakap putih ini tidaklah terlalu selalu sulit dikarenakan ikan ini termasuk ikan yang banyak dicari di pasaran. Pemasaran dari ikan ini juga apabila dalam skala besar seringkali tidak hanya untuk memnuhi kebutuhan dalam negri akan tetapi seringkali di ekspor ke luar juga.
Senin, 10 Mei 2010
SIDE SCAN SONAR SEAMARC II DAN GLORIA
SEA MARC II
Prinsip dasar
Merupakan pengembangan lanjut dari prinsip “side scan sonar”, dalam hal ini dapat menghasilkan citra dengan cakupan 10 kilometer dan batimetri dengan kontur interval 100 metr secara otomatis.
Gambar 8. Sea MARC II
Sistem pengambilan data (peralatan)
Alat “tow fish” digeret di belakang kapal, dan ditempatkan pada kedalamn kira-kira 50 meter di bawah permukaan laut. Gelombang bunti dipancarkan secara melebar dari alat “tow fish” tersebut, dengan frekuensi 12 kHz. Gelombang dipantulkan dari dasar laut selanjutnya diterima kembali oleh “tow fish” dan diteruskan kea lat perekam kapal.
Kelauran (out put)
1. Data dasar
a. Rekaman analog side-scan
b. Rekaman digital side-scan dan kedalaman
2. Data diolah
a. Citra side scan sonar yang telah dikoreksi
b. Perhitungan kedalam dasar laut
3. Data siap pakai
a. Citra side scan sonar sepanjang lintasan penyelidikan
b. Mosaic citra side-scan pada tercakup pada daerah penyelidikan
c. Peta kedalaman bersamaan dengan mosaic citra side-scan
Parameter yang didapat / tujuan
1. Morfologi dasar laut
2. Karakter eko dasar laut
3. Kedalaman dasar laut
Potensi yang ditunjukkan oleh parameter
· Kedalaman dasar laut berupa peta batimetri merupakan peta dasar bagi analisa hasil penyelidikan lainnya (base map)
· Citra side-scan dasar laut akan dapat menafsirkan kenampakan di dasar laut secara lebih obyektif
Informasi tambahan :
Hasil yang perlu dikembangkan
1. Citra side-scan yang dipadukan dengan batimetri dan hasil penafsiran rekaman seismic refleksi akan memberikan penafsiran struktur geologi secara lebih obyektif dan akurat.
2. Citra side-scan dipadukan dengan hasil pengambilan contoh sedimen permukaan (piston core) akan menghasilkan peta sebaran sedimen yang lebih akurat.
3. Studi morfologi dan proses sedimentasi dekat permukaan laut (near sea floor) sangat efektif untuk studi bencana alam geologi (misalnya kestabilan lereng, dan keberadaan sesar aktif)
Klasifikasi data : D
D = Biasa
Argumentasi dari klasifikasi
1. Metoda SeaMAC II telah menjadi standar yang terpasang pada kapal tiset yang dimiliki oleh University of Hawaii, Amerika.
2. Metoda SeaMARC II sangat efektif dalam memecahkan masalah geoogi dan geofisika pada daetah yang kompleks seperti Indoneasi bagian timur dan ZEE.
Catatan :
Pemetaan dasar laut menggunakan teknologi “swith mapping” akan lebih ekonomis bila dibandingkan dengan metoda konvensional dengan echosounder, dalam hal ini menyangkut luas wilayah yang tercakup per hari layar. Metoda SeaMARC II telah diaplikasi pada tahun 1983 di IBT.
Prinsip dasar
Merupakan pengembangan lanjut dari prinsip “side scan sonar”, dalam hal ini dapat menghasilkan citra dengan cakupan 60 kilometer
Sistem GLORIA ini menghasilkan gambar dari perekaman dasar perairan. Gambar ini dihasilkan dari pantulan gelombang yang dipancarkan selama kapal bergerak. Sumber suara dan receiver dibuat dengan bentuk menyerupai ikan dan ditarik dibelakang kapal dengan jarak 200m. pemetaan dengan elektrik ini memancarkan gelombang setiap 30 detik.
Keuntungan dari GLORIA ini antara lain: menyediakan informasi mengenai dasar perairan yang cakupan yang luas dengan cepat, mengetahui karakteristik tekstur sedimen dan dapat mengetahui jarak ikan dari dasar perairan.
Gambar 9. GLORIA (Geological Long Range Inclined Asdic)
Sistem pengambilan data (peralatan)
Alat “tow fish” digeret di belakang kapal, dan ditempatkan pada kedalaman kira-kira 50 meter di bawah permukaan laut. Gelombang bunti dipancarkan secara melebar dari alat “tow fish” tersebut, dengan frekuensi 12 kHz. Gelombang dipantulkan dari dasar laut selanjutnya diterima kembali oleh “tow fish” dan diteruskan kea lat perekam kapal.
Kelauran (out put)
· Data dasar
Rekaman analog side-scan
Rekaman digital side-scan dan kedalaman
· Data diolah
Citra side scan sonar yang telah dikoreksi
· Data siap pakai
Citra side scan sonar sepanjang lintasan penyelidikan
Mosaic citra side-scan pada tercakup pada daerah penyelidikan
Parameter yang didapat / tujuan
· Morfologi dasar laut
· Karakter eko dasar laut
Potensi yang ditunjukkan oleh parameter
Citra side-scan dasar laut akan dapat menafsirkan kenampakan di dasar laut secara lebih obyektif.
Informasi tambahan
Hasil yang perlu dikembangkan
1. Citra side-scan yang dipadukan dengan batimetri dan hasil penafsiran rekaman seismic refleksi akan memberikan penafsiran struktur geologi secara lebih obyektif dan akurat.
2. Citra side-scan dipadukan dengan hasil pengambilan contoh sedimen permukaan (piston core) akan menghasilkan peta sebaran sedimen yang lebih akurat.
3. Studi morfologi dan proses sedimentasi dekat permukaan laut (near sea floor) sangat efektif untuk studi bencana alam geologi (misalnya kestabilan lereng, dan keberadaan sesar aktif).
Kemampuan untuk mengolah data
Pengambilan data dan pengolahan masih tergantung dari Negara asing , penafsiran sudah dapat diakukan di Indonesia.
Klasifikasi data : D
D = Biasa
Argumentasi dari klasifikasi
1. Metoda SeaMAC II telah menjadi standar yang terpasang pada kapal tiset yang dimiliki oleh UK.
2. Metoda SeaMARC II sangat efektif dalam memecahkan masalah geoogi dan geofisika pada daerah yang kompleks seperti Indonesia bagian timur dan ZEE.
Catatan
Pemetaan dasar laut menggunakan teknologi “swith mapping” akan lebih ekonomis bila dibandingkan dengan metoda konvensional dengan echosounder, dalam hal ini menyangkut luas wilayah yang tercakup per hari layar.


