Powered By Blogger

Selasa, 01 Juni 2010

BUDIDAYA KAKAP PUTIH

Indonesia memiliki potensi sumber daya perairan yang cukup besar untuk usaha budidaya ikan, namun usaha budidaya ikan kakap belum banyak berkembang, sedangkan di beberapa negara seperti: Malaysia, Thailand dan Singapura, usaha budidaya ikan kakap dalam jaring apung (floating net cage) di laut telah berkembang.
Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) atau lebih dikenal dengan nama seabass/Baramundi merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Produksi ikan kakap di indonesia sebagian besar masih dihasilkan dari penangkapan di laut, dan hanya beberapa saja diantarannya yang telah di hasilkan dari usah pemeliharaan (budidaya). Salah satu faktor selama ini yang menghambat perkembangan usaha budidaya ikan kakap di indonesia adalah masih sulitnya pengadaan benih secara kontinyu dalam jumlah yang cukup.
Dalam upaya pengembangan budidaya ikan kakap putih di indonesia, telah dikeluarkan Paket Teknologi. Budidaya Kakap Putih di Karamba Jaring Apung melalui rekomendasi Ditjen Perikanan No. IK. 330/D2. 10876/93K, yang dilanjutkan dengan Pembuatan Petunjuk Teknis Paket Teknologi. Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan budidaya laut ini yakni :

A. Pra Budidaya
Pada tahap pra budidaya yang pertama dilakukan yakni pemilihan lokasi budidaya. Pada tahap pemilihan lokasi ini yang harus kita perhatikan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan budidaya. Untuk itu maka perlu diadakan survey yang bertujuan agar kegiatan budidaya lebih optimal. Faktor-faktor yang memepnagruhi kegiatan budidaya kakap putih ini yakni :
a. Perairan pantai/ laut yang terlindung dari angin dan gelombang
b. Kedalaman air yang baik untuk pertumbuhan ikan kakap putih berkisar antara 5 ~ 7 meter.
c. Pergerakan air yang cukup baik dengan kecepatan arus 20-40 cm/detik.
d. Kadar garam 27 ~ 32 ppt, suhu air 28 ~ 30 0C dan oksigen terlarut 7 ~ 8 ppm
e. Benih mudah diperoleh.
f. Bebas dari pencemaran dan mudah dijangkau.
g. Tenaga kerja cukup tersedia dan terampil.

Kegiatan lain yang mesti dilakukan pada tahapa ini yakni penentuan metode yang digunakan misalnya Karamba Jaring Apung (KJA). Secara garis besar metode karamba jaring apung terdiri dari :
a. Jaring terbuat dari bahan:
- Bahan: Jaring PE 210 D/18 dengan ukuran lebar mata 1 ~ 1,25”, guna untuk menjaga jangan sampai ada ikan peliharaan yang lolos keluar.
- Ukuran: 3 m x 3 m x 3 m- 1 Unit Pembesaran: 6 jaring (4 terpasang dan 2 jaring cadangan)
b. Kerangka/Rakit: Kerangkan berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan.
- Bahan: Bambu atau kayu
- Ukuran: 8 m x 8 mc. Pelampung: Pelampung berpungsi untuk mengapungkan seluruh sarana budidaya atau barang lain yang diperlukan untuk kepentingan pengelolaan- Jenis: Drum (Volume 120 liter)
- Jumlah: 9 buah.d. Jangkar: Agar seluruh sarana budidaya tidak bergeser dari tempatnya akibat pengaruh angin, gelombang digunakan jangkar.- Jenis yang dipakai: Besi atau beton (40 kg).- Jumlah : 4 buah
- Panjang tali : Minimal 1,5 kali ke Dalian aire. Ukuran benih yang akan Dipelihara: 50-75 gram/ekor
f. Pakan yang digunakan: ikan rucah
g. Perahu : Jukungh. Peralatan lain : ember,serok ikan, keranjang, gunting dll.

Perakitan karamba jaring bisa dilakukan di darat dengan terlebih dahulu dilakukan pembuatan kerangka rakit sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan. Keangkan ditempatkan di lokasi budidaya yang telah direntukan dan agar tetap pada tempatnya (tidak terbawa arus) diberi jangkar sebanyak 4 buah. Jaring apung apa yang telah dibuat berbentuk bujur sangkar pada kerangka rakit dengan cara mengikat keempat sudut kerangka. Cara pengikatan jaring dapat dilihat pada gambar diabawah ini.

Gambar . Cara Mengikat Jaring

Untuk membuat jaring agar berbentuk bujur sangkar, maka pada sudut bagian bawah jaring diberi pemberat seperti pada gambar 3 di bawah ini.:

Gambar Jaring Berbentuk Bujur Sangkar

Untuk mengikat bambu/kayu pada pada pelampung dapatdilihat seperti pada gambar dibawah ini

Gambar Pelampung Diikatkan pada Bambu/Kerangka Rakit

Gambar Kerangka KJA

B. Budidaya
1) Metode Pemeliharaan
Benih ikan yang sudah mencapai ukuran 50-70 gram/ekor dari hasil pendederan atau hatchery, selanjutnya dipelikara dalam kurungan yang telah disiapkan. Penebaran benih ke dalam karamba/jaring apung dilakukan pada kegiatan sore hari dengan adaptasi terlebih dahulu.
Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari dengan takaran pakan 8-10% botol total badan perhari. Jenis pakan yang diberikan adalah ikan rucah (trash fish). Konversi pakan yang digunakan adlah 6:1 dalam arti untuk menghasilkan 1 kg daging diperlukan pakan 6 kg.
Selama periode pemeliharan yaitu 5-6 bulan, dilakukan pembersihan kotoran yang menempel pada jaring, yang disebabkan oleh teritif, algae, kerangkerangan dll. Penempelan organisme sangat menggangu pertukaran air dan menyebabkan kurungan bertambah berat.
Pembersihan kotoran dilakukan secara periodik paing sedikit 1 bulan sekali dilakukan secara berkala atau bisa juga tergantung kepada banyak sedikitnya organisme yang menempel.
Penempelan oleh algae dapat ditanggulangi dengan memasukkan beberapa ekor ikan herbivora (Siganus sp.) ke dalam kurungan agar dapat memakan algae tersebut. Pembersihan kurungan dapat dilakukan dengan cara menyikat atau menyemprot dengan air bertekanan tinggi.
Selain pengelolaan terhadap sarana /jaring, pengelolaan terhadap ikan peliharaan juga termasuk kegiatan pemeliharaan yang harus dilakukan. Setiap hari dilakukan pengontrolan terhadap ikan peliharaan secara berkala, guna untuk menghindari sifat kanibalisme atau kerusakan fisik pada ikan. Disamping itu juga untuk menghindari terjadinya pertumbuhan yang tidak seragam karena adanya persaingan dalam mendapatkan makanan.
Penggolongan ukuran (grading) harus dilakukan bila dari hasil pengontrolan terlihat ukuran ikan yang tidak seragam. Dalam melakukan pengontrolan, perlu dihindari jangan sampai terjadi stress.
2) Panen
Lama pemeliharan mulai dari awal penebaran sampai mencapai ukuran ± 500 gram/ekor diperlikan waktu 5-6 bulan. Dengan tingkat kelulusan hidup/survival rate sebesar 90% akan didapat produksi sebesar 2.700 kg/unit/periode budidaya Pemanenan dilakukan dengan cara mengangkat jaring keluar rakit, kemudian dilakukan penyerokan.

Gambar Kakap Putih

3) Penyakit
Publikasi tentang penyakit yang menyerang ikan-ikan yang dibudidayakan di laut seperti ikan kakap putih belum banyak dijumpai. Ikan kakap putih ini termasuk diantara jenis-jenis ikan teleostei. Ikan jenis ini sering kali diserang virus, bakteri dan jamur. Gejala-gejala ikan yang terserang penyakit antara lain adalah, kurang nafsu makan, kelainan tingkah laku, kelainan bentuk tubuh dll.
Tindakan yang dapat dilakukan dalam mengantisipasi penyakit ini adalah:
a. menghentikan pemberian pakan terhadap ikan dan menggantinya dengan jenis yang lain;
b. memisahkan ikan yang terserang penyakit, serta mengurangi kepadatan;
c. memberikan obat sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.

C. Pasca Budidaya
Tahap pasca budidaya yakni tahap pemasaran hasil budidaya. Pemasaran hasil budidaya dapat dilakukan dengan cara memasarkan hasil budidaya langsung ke pasar ataupun dengan mencari penampung. Pada dasarnya kegiatan pemasaran untuk jenis kakap putih ini tidaklah terlalu selalu sulit dikarenakan ikan ini termasuk ikan yang banyak dicari di pasaran. Pemasaran dari ikan ini juga apabila dalam skala besar seringkali tidak hanya untuk memnuhi kebutuhan dalam negri akan tetapi seringkali di ekspor ke luar juga.

Senin, 10 Mei 2010

SIDE SCAN SONAR SEAMARC II DAN GLORIA


SEA MARC II

Prinsip dasar

Merupakan pengembangan lanjut dari prinsip “side scan sonar”, dalam hal ini dapat menghasilkan citra dengan cakupan 10 kilometer dan batimetri dengan kontur interval 100 metr secara otomatis.

Gambar 8. Sea MARC II

Sistem pengambilan data (peralatan)

Alat “tow fish” digeret di belakang kapal, dan ditempatkan pada kedalamn kira-kira 50 meter di bawah permukaan laut. Gelombang bunti dipancarkan secara melebar dari alat “tow fish” tersebut, dengan frekuensi 12 kHz. Gelombang dipantulkan dari dasar laut selanjutnya diterima kembali oleh “tow fish” dan diteruskan kea lat perekam kapal.


Kelauran (out put)

1. Data dasar

a. Rekaman analog side-scan

b. Rekaman digital side-scan dan kedalaman

2. Data diolah

a. Citra side scan sonar yang telah dikoreksi

b. Perhitungan kedalam dasar laut

3. Data siap pakai

a. Citra side scan sonar sepanjang lintasan penyelidikan

b. Mosaic citra side-scan pada tercakup pada daerah penyelidikan

c. Peta kedalaman bersamaan dengan mosaic citra side-scan


Parameter yang didapat / tujuan

1. Morfologi dasar laut

2. Karakter eko dasar laut

3. Kedalaman dasar laut

Potensi yang ditunjukkan oleh parameter

· Kedalaman dasar laut berupa peta batimetri merupakan peta dasar bagi analisa hasil penyelidikan lainnya (base map)

· Citra side-scan dasar laut akan dapat menafsirkan kenampakan di dasar laut secara lebih obyektif

Informasi tambahan :

Hasil yang perlu dikembangkan

1. Citra side-scan yang dipadukan dengan batimetri dan hasil penafsiran rekaman seismic refleksi akan memberikan penafsiran struktur geologi secara lebih obyektif dan akurat.

2. Citra side-scan dipadukan dengan hasil pengambilan contoh sedimen permukaan (piston core) akan menghasilkan peta sebaran sedimen yang lebih akurat.

3. Studi morfologi dan proses sedimentasi dekat permukaan laut (near sea floor) sangat efektif untuk studi bencana alam geologi (misalnya kestabilan lereng, dan keberadaan sesar aktif)

Klasifikasi data : D

D = Biasa


Argumentasi dari klasifikasi

1. Metoda SeaMAC II telah menjadi standar yang terpasang pada kapal tiset yang dimiliki oleh University of Hawaii, Amerika.

2. Metoda SeaMARC II sangat efektif dalam memecahkan masalah geoogi dan geofisika pada daetah yang kompleks seperti Indoneasi bagian timur dan ZEE.

Catatan :

Pemetaan dasar laut menggunakan teknologi “swith mapping” akan lebih ekonomis bila dibandingkan dengan metoda konvensional dengan echosounder, dalam hal ini menyangkut luas wilayah yang tercakup per hari layar. Metoda SeaMARC II telah diaplikasi pada tahun 1983 di IBT.

GLORIA (Geological Long Range Inclined Asdic)

Prinsip dasar

Merupakan pengembangan lanjut dari prinsip “side scan sonar”, dalam hal ini dapat menghasilkan citra dengan cakupan 60 kilometer

Sistem GLORIA ini menghasilkan gambar dari perekaman dasar perairan. Gambar ini dihasilkan dari pantulan gelombang yang dipancarkan selama kapal bergerak. Sumber suara dan receiver dibuat dengan bentuk menyerupai ikan dan ditarik dibelakang kapal dengan jarak 200m. pemetaan dengan elektrik ini memancarkan gelombang setiap 30 detik.

Keuntungan dari GLORIA ini antara lain: menyediakan informasi mengenai dasar perairan yang cakupan yang luas dengan cepat, mengetahui karakteristik tekstur sedimen dan dapat mengetahui jarak ikan dari dasar perairan.

Gambar 9. GLORIA (Geological Long Range Inclined Asdic)


Sistem pengambilan data (peralatan)

Alat “tow fish” digeret di belakang kapal, dan ditempatkan pada kedalaman kira-kira 50 meter di bawah permukaan laut. Gelombang bunti dipancarkan secara melebar dari alat “tow fish” tersebut, dengan frekuensi 12 kHz. Gelombang dipantulkan dari dasar laut selanjutnya diterima kembali oleh “tow fish” dan diteruskan kea lat perekam kapal.


Kelauran (out put)

· Data dasar

Rekaman analog side-scan

Rekaman digital side-scan dan kedalaman

· Data diolah

Citra side scan sonar yang telah dikoreksi

· Data siap pakai

Citra side scan sonar sepanjang lintasan penyelidikan

Mosaic citra side-scan pada tercakup pada daerah penyelidikan


Parameter yang didapat / tujuan

· Morfologi dasar laut

· Karakter eko dasar laut

Potensi yang ditunjukkan oleh parameter

Citra side-scan dasar laut akan dapat menafsirkan kenampakan di dasar laut secara lebih obyektif.


Informasi tambahan

Hasil yang perlu dikembangkan

1. Citra side-scan yang dipadukan dengan batimetri dan hasil penafsiran rekaman seismic refleksi akan memberikan penafsiran struktur geologi secara lebih obyektif dan akurat.

2. Citra side-scan dipadukan dengan hasil pengambilan contoh sedimen permukaan (piston core) akan menghasilkan peta sebaran sedimen yang lebih akurat.

3. Studi morfologi dan proses sedimentasi dekat permukaan laut (near sea floor) sangat efektif untuk studi bencana alam geologi (misalnya kestabilan lereng, dan keberadaan sesar aktif).

Kemampuan untuk mengolah data

Pengambilan data dan pengolahan masih tergantung dari Negara asing , penafsiran sudah dapat diakukan di Indonesia.


Klasifikasi data : D

D = Biasa


Argumentasi dari klasifikasi

1. Metoda SeaMAC II telah menjadi standar yang terpasang pada kapal tiset yang dimiliki oleh UK.

2. Metoda SeaMARC II sangat efektif dalam memecahkan masalah geoogi dan geofisika pada daerah yang kompleks seperti Indonesia bagian timur dan ZEE.

Catatan

Pemetaan dasar laut menggunakan teknologi “swith mapping” akan lebih ekonomis bila dibandingkan dengan metoda konvensional dengan echosounder, dalam hal ini menyangkut luas wilayah yang tercakup per hari layar.